Blue Lagoon, Antara Indah dan Sampah
Bersama teman, saya pergi ke Padangbai, lebih tepatnya Blue Lagoon, beberapa waktu lalu. Tujuannya sih untuk “get away” sejenak. Padangbai adalah salah satu kota kecil di pesisir timur Bali, dan merupakan salah satu kota “agak” sibuk di Bali karena perannya sebagai salah satu pintu pelabuhan, tempat kapal penumpang maupun barang lalulalang dari dan ke Lombok, NTT.
Kami membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari Ubud menuju Blue Lagoon dengan berkendara motor. Blue Lagoon adalah salah satu pantai dari dua pantai yang mempunyai daya tarik wisata selam dan snorkelling. Blue Lagooon ada di sisi Utara pelabuhan dan Pantai Kecil di sisi Selatannya.
Dari pantai utama, kami berjalan kaki menaiki punggung bukit selama kurang lebih 5 menit. Kemudian tralaaaaaa….terpampanglah sebuah ceruk kecil berair nan biru seperti namanya, selebar hanya beberapa puluh meter. Dari atas bukit, melihat kejernihan air yang menampakkan dasar laut dengan gradasi birunya, dan tebing tandus di kanan kiri yang memeluk bibir pantai, disertai gugusan karang pada bagian tepinya, saya langsung paham.
Memang ini tempat diving dan snorkelling yang keren.
Di Blue Lagoon kami bertemu dengan teman-teman kerja (dulunya sih…). Mereka dari Australia, begitupun mereka membawa teman dan keluarga masing-masing. Ya jadi tambah ramelah kami. Sayang, tanpa Babeh, saya tidak berani berenang, jadi saya memilih untuk photo hunting saja, hehehe…Setelah memotret teman-teman yang sedang snorkelling, saya berangkat susur pantai dan tebing sendirian.
Dari tebing sisi utara, langkah saya terhenti pada bagian ceruk yang cukup dalam setelah baru berjalan kurang lebih 20 meter. Dia menyudut ke dalam tebing membentuk sebuah gua yang terlalu lebar untuk bisa saya lompati dengan kaki pendek ini. Terpaksa saya berbalik arah, sambil ambil beberapa gambar koral. Saking jernihnya air laut, saya bisa melihat memang koral di sana masih bagus, meski hanya dari permukaan. Ah, andai babeh ada disini, bisik saya dalam hati.
Dalam perjalanan kembali ke pantai, yaaaah….saya jadi sedikit kecewa karena pemandangan indah bawah laut itu terganggu adanya sampah plastik. Botol air minum kosong dan selembar plastik lainnya. Ck…ck…ck…
Kemudian saya berganti arah ke selatan. Di sana lebih menarik karena pemandangan ke arah utara lebih luas dengan terlihatnya beberapa pulau kecil yang saya tak tahu namanya. Photo hunting berlanjut. Lumayan dapat hewan-hewan laut aneh di tepian, sesekali saya juga temukan koral yang hampir kering dan mati berwarna warni. Beberapa orang sedang asik memancing di ujung teluk utara, sambil sesekali berbincang satu sama lain. Dan saya juga menemukan sampah plastik lainnya. Kali ini sobekan bungkus sabun cuci, Soklin.
Kemudian saya berbalik arah lagi, karena teringat kata Crystal, ada spot yang mungkin juga bagus untuk hunting foto dari atas bukit utara. Saya berpikir, kenapa tidak? Saya bergegas ke sana…
Dan aha! Memang di atas nampak lebih indah! Saya kemudian jepret sana sini sambil terus berjalan ke ujung tebing atas. Makin ke ujung makin perlu hati-hati karena hutan kaktus semakin merapat. Sedikit berkorban dengan goresan di kaki karena kaktus rendah tak apa lah. Sepanjang susur tebing paling solitud yang pernah saya lakukan ini, lagi-lagi saya terganggu dengan sampah. Kali ini lebih parah!
Mungkin tebing ini jadi tempat pembuangan akhir para penjual makanan di teluk bawah, atau bahkan juga jadi TPA hotel-hotel di puncaknya???????
Saya baru ingat, saya memang tidak melihat satupun tempat sampah di sepanjang pantai ataupun papan peringatan pembuangan sampah di salah satu sudutnya. Kalaupun ada, logikanya hanya warung makan yang ada di bawahlah yang punya.
Hmm…lagi-lagi ini pe-er yang harus dipahami bersama. Pemerintah atau setidaknya pengelola dan pengguna lokasi untuk bisnis menyediakan fasilitas yang tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan lahan sebagai mata pencaharian, tapi juga memeliharanya yang toh juga demi keberlangsungan usaha dalam jangka panjang. Bukankah mereka dapat hidup dari menjual alam?
Apa yang saya lihat belumlah semua. Dan saya yakin, lokasi sampah tersembunyi seperti ini, tidak hanya di bukit utara. Pasti ada di bukit selatan, dan bahkan sangat mungkin hampir di semua lokasi Padangbai yang jarang dijamah turis. Bagaimana jika ini tidak tertangani dengan baik sejak dari awal?
Satu lagi, saya tidak mengenali adanya papan tanda bahaya pada titik bukit tertentu. Dan meski pantai ini relatif aman bagi penyelam pemula dan aktivitas snorkelling ringan, tapi dimanakah penjaga pantainya? Bukankah standar lokasi wisata pantai adalah selain tersedianya fasilitas dasar aktivitas, adalah juga pentingnya sistem pengamanan kegiatan air? Belum lagi toilet yang sangat bau dan kotor…dan lagi-lagi ada sampah di dalamnya…
Hmm…Padangbai benar-benar di antara indah dan sampah….
(metta dian thanks to deasy atas kamera yang boleh dipake)












August 14th, 2009 at 7:51 am
apiknyaaaa… pantes namanya blue lagoon ya mbak! wah wah kok bisa kelewatan ya, waktu ke bali kok nggak ke sana.
Iya, sampahnya sayang banget, mengganggu pemandangan.. parah. butuh workcamp nih, buat mengadakan tempat sampah? ahahaha
October 14th, 2009 at 7:19 pm
saya ada planning ke sana bulan des’09 kira-2 berapa budget yg harus saya siapkan untuk menginap 3 hari.thk for infonya ??