Di Baliii….

ditulis 14 April 2009

Tidak tahu mau kasih judul apa. Juga tidak tahu mau menulis apa. Sejak April pekerjaan “kantoran” baru saya mengharuskan tinggal di Bali untuk setidaknya tiga bulan, setelah itu…mm..kita lihat saja nanti yah. Semoga sih bisa lebih lama.
Dalam proses adapatasi ini saya sedikit melupakan blogging. Rasanya mengitari Ubud sendirian dengan bersepeda lebih menarik daripada menulis, setidaknya sekedar untuk membenahi orientasi darat saya yang kadang suka berantakan. Hehe…
Yah, jujur, rasanya seperti sedang berjudi dengan diri sendiri. Secara saya bukan tipe orang yang betah tinggal di satu tempat dalam jangka waktu lama. Tapi semoga itu bisa disiasati dengan weekend yang selalu free disini. Jadi tidak terlalu bosan di kantor. Hmm…apalagi teman-teman kantor sangat baik semuanya. Waah, kalau ada yang baca bagian ini….waaah!!
Oya saya mau berterimakasih saja ah sama beberapa orang yang mendukung kemenangan “perjudian” saya kali ini. Tentunya Bonyok dan saudara saya di rumah, RK dan Didit, teman-teman IIWC, Novi dan Felix (you know who you are). Begitu banyak pula yang telah saya pelajari dalam dua minggu ini secara personal dan profesional.
Eh kok jadi curhat ya? Ini gara-gara tidak tahu apa yang mau ditulis.
Udah ah, males nerusin. Kita lihat saja nanti perkembangan “perjudian” ini. Saya yang menang atau saya yang menang?

Metta Dian



4 Responses to “Di Baliii….”

  1.   lida nich Says:

    waduh… da di bali neh…??!! enak ya…?? sanur, ubud, kuta, bedugul,

    jadi penjelajah dong….!!!

    dah kepangan belum…??

  2.   Andre Rubbyatna Says:

    maaf, perkenan saya ikut menanggapi, namun sebelum ada yang diomongin, boleh dong saya dikasih wawasan lebih banyak tentang iiwc, apakah karya saya untuk semua orang yang bisa berupa impian sosial dan empati kepada sesama dapat ditanggapi dengan baik di forum iiwc ini. sebab pengabdian kemanusiaan saya perlu dan senantiasa mendapatkan keimanan yang lebih kepada apa yang saya yakini saat ini.

  3.   Metta Dian Says:

    @ Lida: waah…di bali tidak harus kepangan dan tidak selalu enak. bali kan masih bagian dari bumi juga dan pasti ada enak dan tidaknya. pertanyaannya adalah bisa enjoy atau tidak dan bagaimana caranya.

    @ Andre Rubbyatna: ada beberapa tulisan saya yang lain tentang IIWC di blog ini. silakan dibaca yah. satu hal yang perlu diketahui, bahwa ini BLOG PRIBADI saya, jadi kalau ada tulisan saya yang bersifat organisasional/institusional, itu juga berdasar pengalaman empiris saya dan (mungkin) subyektifitas saya. meskipun bisa saya jamin bahwa saya tidak asal nulis, jadi selain karena mengalami sendiri juga karena ada bukti2 nyatanya. Kalau anda berniat menulis tentang impian sosial dan empati anda, serta ingin ditanggapi oleh IIWC, mending langsung ditanyakan pada pihak IIWC saja. klik di http://www.iiwcindonesia.org.
    saya juga akan dengan terbuka menanggapi apabila diminta..:))) namun sekali lagi, saya TIDAK BERHAK memberi tanggapan atas nama IIWC di blog pribadi saya. mohon dimengerti ya…cheers…:)))

  4.   Andre Rubbyatna Says:

    Seperti perjalanan merambah labirin kehidupan, maka setiap hijab terbuka disaat ada keterbukaan dan rahmat dari Nya. Kuasa Nya begitu indah maka aku tegur diri sendiri sebelum terpukau dan terlena. Aku bersyukur mendapatkan seorang sahabat sejati (nantinya) siapapun itu, sebab milyaran musuhpun tak mencukupi, sedangkan kehilangan seorang sahabat begitu amat merenung. Sahabat indonesia dimanapun berada semoga dalam keunikan diri kita masing-masing semangat bersatu cermin keindonesiaan sejati. Sejati itu wangi tanpa rasa, rasa itu anugrah, anugrah itu kewangian sejatinya hati dan roh yang telah ada di diri kita. Maaf kata-kata yang begitu terlalu mendasar terlontar diucapkan.
    Diriku sekarang sedang tertambat di UNDIP di MTPWK (planologi), boleh dong kapan-kapan lebih mengenal lebih dalam. Maaf jika tak berkenan.

Leave a Reply