Cermin, Maya, dan Mimpi

ditulis 22 April 2009

Jejak langkah di belakang itu tertera jelas saat aku melihat ke dalam cermin. Apa saja yang pernah kutinggalkan di masa lalu membuatku merasa lebih cantik dari sebelumnya, dibuat jadi lebih kaya oleh waktu yang terlangkahi. Semua ada di sana. Sedih, gelak, air mata, bahkan zonder rasa akan suatu peristiwa yang meninggalkan luka menganga.
Lalu maya bertebaran dalam wujud sosok-sosok manusia bertopeng besi, bergada duri, bertameng baja berukir tulisan masa depan. Aku tak pernah paham apa itu masa depan. Atau anggaplah aku tahu setidaknya dari orang tuaku, yaitu masa dimana keriput tak lagi menyapa hanya di sudut mata, namun hingga ke semua lipat tubuh yang paling rahasia. Atau masa depan adalah saat aku menikmati teh pada suatu sore sambil menyaksikan matahari terbenam di sebuah teras rumah berlantai dua bersama seorang lelaki yang kucintai dan mencintaiku, dia yang jauh lebih keriput dariku dan selalu disapa oleh para pembantu rumah tangga sebagai ‘juragan’.
Itu bisa jadi!
Tapi jika kembali padaku, lihatlah aku. Di dalam cermin itu sambil memandang masa lalu dan ditakuti-takuti oleh sepasukan bergada dan bertameng ‘masa depan’ , apa yang sebenarnya sedang kurisaukan?
Apa ini yang kuinginkan? Apakah saat aku berkeriput itu aku bisa berbangga akan masa mudaku? Apakah saat aku duduk bersama ‘juragan’ itu aku bukan hanya sekedar seorang ‘nyonya’ atau ‘ibu’?
Maka aku berniat sedikit curang, tapi curang yang baik. Bermimpi!!! Meraih mimpi!

Metta Dian



Leave a Reply