Berpangkal Dari Slumdog, Berujung Pada Film Indonesia

Wessss….saya sudah lama tidak melihat film India baru sejak gema Shah Rukh Khan tak begitu terdengar lagi. Hehehe…gini-gini saya juga penonton film India, meski terbatas jumlahnya. Ehem, kecuali film-film SRK tentunya! Paling-paling sekarang bisa nonton kalau sedang tayang di TV, itupun film-film lawas yang sudah diputar entah yang keberapa kalinya.
Hingga beberapa teman merekomendasikan film ini untuk ada di daftar wajib tonton saya. Oke deh, saya pun akhirnya membeli dvd-nya dan nonton!!

Cieee….ternyata rekomendasi mereka tidak salah sama sekali. Ini film memang beda, tidak sekedar beda dari film India yang lain, tapi juga patut dibandingkan dengan film non India (baca: Hollywood dan Eropa, bukan Indonesia) Tapi disini saya tidak berniat untuk membandingkannya dengan film-film dari negara lain tersebut. Melainkan dengan film Indonesia secara umum.

Tentang “Slumdog Millionaire”

Jamal Malik dan Latika saat dewasa

Jamal Malik dan Latika saat dewasa

Kisahnya mungkin biasa saja tapi cara mengemasnya yang sederhana namun mengena sisi kelam kaum terpinggirkanlah yang membuat saya suka. Tokoh utama laki-laki yang sedang mencari tokoh utama perempuan, seorang gadis teman masa kecilnya sekaligus cinta pertamanya, melalui sebuah kuis yang tidak asing lagi dan hampir selalu ada di semua negara, “Who Wants TO Be A Millionaire”.

Dengan keingingan selama mungkin tampil di TV berarti semakin besar kemungkinan menemukan cintanya, dia berusaha menjawab semua pertanyaan dengan benar. Dan memang dia menjawab semua pertanyaan itu dengan benar, bukan karena kejeniusannya, melainkan memori sejak kecil hingga dewasa yang menuntunnya ke arah jawaban yang serba tepat hingga pertanyaan terakhir.

Poin ini yang membuat saya jatuh hati pada film ini, yaitu bagaimana satu persatu memori masa kecilnya itu dikupas di film. Mulai terlahir sebagai anak miskin, hidup di daerah slum, hingga terperangkap dalam kekejaman jalanan. Hidup berdua dengan kakak, menemukan teman sependeritaan hingga terpisah satu sama lain, dan saling menemukan kembali.

Subyektifitas Saya

foto dari: www.inewsindia.com

foto dari: www.inewsindia.com

Film ini berkisah tentang perjuangan yang tak kenal putus asa. Dan kisah anak-anak jalanan itu mengingatkan saya kembali pada masa saya bersentuhan dengan mereka di Semarang dan Solo. Bahwa itu nyata terjadi di Indonesia. Saya mungkin belum melihat semua kompleksitas anak jalanan, tapi sebagian kecil yang terpapar dalam film itu saya melihat sendiri, dan sebagian besar lainnya setidaknya saya dengar langsung dari anak-anak tersebut atau dari para relawan lain di lapangan.

Entah apa yang melatarbelakangi pembuatan film yang disutradarai Danny Boyle, orang Inggris, tapi buat saya jelas shot gambar yang ditampilkan tidak sekedar diwarnai penderitaan yang rata-rata dianggap lebih mudah menarik hati penonton. Tapi memang sengaja untuk menunjukkan “ini loh anak-anak jalanan” di India, yang sebenarnya itu adalah fenomena gunung es bila kita mau sedikit lebih sensitif terhadap lingkungan kita sendiri.

Tengoklah kanan kiri kita saat ini. Tak usah di Jakarta, tapi di Semarang, atau Solo. Longoklah sedikit ke dalam jendela hidup mereka maka akan tampak lebih jelas lagi hal-hal sama yang ditampilkan di film tersebut. Perdagangan anak, eksploitasi seksual, eksploitasi tenaga dengan menyuruh mereka di bawah ancaman untuk mau “bekerja” di pinggir jalan, narkoba, perjudian, dll. Semua itu juga ada di Indonesia!!

Dan lihatlah kita, sudahkah ada yang kita lakukan untuk mengurangi itu? Saya yakin, kebanyakan dari kita ada rasa jijik, takut “diserang” atau bahkan merasa lebih tinggi derajat dari mereka yang membuat kita makin jauh dari kata membantu. Sejujurnya saya pun kadang masih ada rasa seperti itu meski beberapa kali proyek sosial saya pernah bersentuhan dengan mereka. Tapi saya tidak ingin membiarkan rasa itu menguasai hati saya hingga menyuburkan sifat angkuh dan acuh.Dalam arti kata lain, dari sebuah film bisa membawa saya merefleksi diri.

Film Indonesia yang bisa membidik masalah sosial seperti ini sebenarnya juga banyak dan tidak hanya tentang anak jalanan. Namun rata-rata kurang komersial atau di hujat oleh lembaga-lembaga tertentu yang mengatasnamakan negara, atau bahkan komunitas tertentu dengan alasan menyinggung perasaan komunitas tersebut.

Yah, bagaimana dunia film kita mau maju dan apalagi memberikan pelajaran pada masyarakat lokal dan dunia tentang masalah sosial secara jujur? Lha wong film aja yang memotret sebagian kecil fenomena secara jujur masih di sangkal, apalagi realita yang menggunung es itu!

Metta Dian



One Response to “Berpangkal Dari Slumdog, Berujung Pada Film Indonesia”

  1.   tendy Says:

    goodluck, lady… Bravo!!

Leave a Reply