Perawan Sang Hyang
Oleh: Metta Dian
dimuat di Femina no.5/XXXVII/2009
Pagi buta. Mémé membangunkan Swasti untuk menyiapkan canang. Sebenarnya semalam pun gadis berumur 14 tahun itu sudah membuat seratus canang seperti biasa.
“Bija untuk cananglupa belum kau masukkan.” kata Mémé.
Setelah menguap dua kali dan melipat selimut sembarangan Swasti berjalan menuju dapur yang terpisah dari rumah utama. Ia melewati sebuah jembatan batu yang melengkung melintasi sebuah kolam ikan yang dibuat mengelilingi separuh rumah utama. Kamarnya sendiri tidak berada di rumah utama. Tapi di belakangnya. Rumah gedong itu hanya untuk Mémé dan Bapa serta keponakan mereka yang masih kecil dan dititipkan di keluarga ini untuk sementara. Jadi Swasti harus berjalan menuju jembatan itu lebih dulu sebelum sampai ke dapur.
Di dapur Mémésudah siap.
“Jangan lupa nanti jam delapan pagi ada upacara milih penari Sang Hyang di sawah sebelah timur Pura Puseh.” kata Mémé pelan.
“Nggih. Yang dekat rumah pak Mangku?”
“Hmm.”
Mereka meneruskan pekerjaan rutin membuat seratus canangdalam diam. Tiba-tiba pikiran Swasti ditumbuhi rasa gelisah sekaligus senang. Bulan depan akan ada pertunjukan tari Sang Hyang untuk Piodalan di Pura Puseh.
Perawan desa mana yang tidak akan gelisah. Bagaimana kalau bukan aku yang terpilih, apalagi aku tidak cantik dan tidak pula pintar menari. Kalaupun terpilih, setelah rasa senang dan bangga, yang ada juga tetap gelisah. Apa ruhku akan bisa melihat semua hal yang tidak bisa dilihat orang lain? Apa ruhku akan bisa kembali lagi? Kemudian apa aku mampu dan boleh menceritakan apa yang kualami dan kulihat saat aku ada di alam yang berbeda? Dia tak henti bertanya dalam diam.
Setelah Bapapergi kerja dan Mémé juga selesai sembahyang, setengah berlari Swasti kembali ke kamar. Mandi, mengganti pakaian dengan kebaya, kamben dan sarung. Disambarnya begitu saja sandal yang bertengger di rak sepatu di belakang pintu. Berpamitan pada bibi yang masih memasak di dapur untuk para pekerja pengukir kayu di rumah.
Setelah itu ia benar-benar berlari dan hampir tidak diperbolehkan masuk ke tempat upacara karena lupa menguncir rambut. Kelian desa mengingatkannya untuk merapikan rambut.
Ah, aku lupa membawa jepit rambut! Para dewa tak kan memilihku karena aku tidak rapi, aku tahu itu! Maka ia pun sedikit jalang mencari ranting pohon jalar di pinggiran sawah. Diputarnya rambut hitam ikal dan panjang untuk kemudian disanggul dengan sekali tusukan ranting.
Upacara langsung dimulai begitu ia duduk di baris lingkaran terluar. Mantra-mantra nan khusyuk mulai dilafalkan dan ritual pun dilaksanakan dengan masygul oleh para pendeta. Sekian lama tidak terjadi apa-apa yang menunjukkan seseorang akan terpilih menjadi penari.
Mantra terus dilafalkan hingga tengah hari saat semua orang sudah mulai merasakan kulit yang memerah dan perih karena sengatan matahari. Tiba-tiba seseorang berteriak demi melihat salah satu calon penari Sang Hyang pingsan.
Swasti! Swasti!!
Para tetua adat bergegas menghampirinya. Swasti di papah, bukan ke luar lingkaran untuk istirahat, melainkan ke tengah lingkaran. Salah satu dari mereka mendekatkan mulut ke telinga Swasti dan seperti sedang membisikkan sesuatu. Air muka Swasti terlihat mengeras sejenak, kedua alisnya bertaut dan dahinya mengerut. Tetua adat terus membisikkan sesuatu di telinga gadis kecil ini. Semua orang menunggu dengan tegang.
Tak berapa lama kemudian wajah Swasti mengendur dan terlihat sedikit senyum sesudahnya. Manis sekali. Dan tetua adat itu pun berbalik menghadap semua perawan desa dan orang tua serta kelian yang hadir saat itu. Sambil menganggukkan kepala.
“Ya, Swasti adalah penari Sang Hyanguntuk Piodalan bulan depan.”
Dan semua yang hadir pun menghela nafas lega. Desa Kayubihi Kelod sudah punya penari Sang Hyangbulan depan.
* * *
Malam nanti adalah malam ke sepuluh Swasti menari. Pertunjukan Sang Hyang di hari terakhir. Semalam setelah menyelesaikan tugasnya menari dari jam delapan malam hingga jam empat pagi di pura ia disadarkan kembali oleh seorang pemangku dan langsung dibawa ke rumah salah satu tetua. Disanalah dia selalu tidur selepas menari selama sembilan hari kemarin. Di sini ia tidak hanya dilayani dan dilindungi secara fisik tapi juga secara spiritual. Dia tidak boleh sampai sakit apalagi ingin berhenti, karena petaka akan datang pada kampung ini. Bisa-bisa hasil sawah tidak bagus, banyak penyakit misterius dan kematian. Karena Sang Hyangadalah persembahan manusia untuk para ruh leluhur yang hidup berdampingan dengan semua orang di kampung ini sekaligus yang menjaga mereka.
Swasti sendiri merasa sangat senang di hari-hari pertama melaksanakan tugasnya. Mengalami detik-detik ruhnya sendiri keluar dari tubuhnya. Menyaksikan ruh-ruh lain bergantian menggantikan ruhnya di setiap tarian yang berbeda. Melihat tubuhnya yang kosong dan limbung saat musik jeda. Ruh anak laki-laki kecil yang baru saja menggunakan tubuhnya untuk menari kelinci pelan-pelan keluar dan lari kemudian duduk di dalam lingkaran bersebelahan dengan ruhnya. Tak berapa lama ruh seorang perempuan muda yang sangat cantik terlihat sudah tak sabar lagi ingin segera menari. Menggunakan tubuh Swasti.
Tetua adat yang tadinya memantrai di telinga Swasti, kemudian memberitahu penabuh gamelan untuk memainkan satu tarian muda-mudi. Swasti senang sekali melihat dirinya selama beberapa malam ini bisa menari dengan sangat bagus, sekaligus sangat cantik dengan pakaian dan dandanan yang sempurna.
Satu kali Swasti merasa ruh tersebut seperti menunjuk ke arahnya, tapi ternyata ke arah seorang pemudi yang duduk di barisan depan para pemudi kampung. Kemudian juga ke arah seorang pemuda kampung yang lain. Ruh itu menginginkan mereka berdua menari bersama. Di tengah-tengah tarian tangan Swasti mengayun pelan ke kepala kedua muda mudi itu untuk kemudian mengantukkan keduanya hingga berciuman bibir. Sekilas kemudian raut muka Swasti tersenyum senang. Ruh perempuan itu pasti juga senang karena keinginannya dituruti. Hal-hal seperti ini takkan pernah terjadi andai Swasti dalam keadaan sadar.
* * *
Malam terakhir yang dinanti pun akhirnya tiba. Meski lelah selalu mendera saat dia bangun dari tidurnya di siang atau sore hari dan tidak bisa menipu dirinya sendiri karena tidak sabar ingin segera mengakhiri tugasnya. Namun dia masih bersemangat untuk menjalankan tugas suci ini dengan baik.
Tidak ada kejadian spiritual yang mencolok hingga lewat tengah malam. Ruh Swasti menikmati pertunjukan ini sama seperti warga desa lainnya yang sedang menonton tubuhnya menari. Menikmati setiap gemulai jemari hingga liukan bahu dan pinggulnya. Dia ingin saat tersadar esok hari akan pulang membawa kenangan bahwa dia pernah bisa menari dengan sangat indah dalam kesucian sebuah upacara, meski nilai pelajaran tarinya di sekolah tidak pernah lebih dari enam setengah.
Ruh seorang Dayu yang sekarang sedang menari dengan tubuhnya seketika berhenti. Mimik Swasti menunjukkan Dayu sedang marah. Tubuh Swasti tiba-tiba berlari menerobos para penonton di lingkaran dalam hingga menyibak kerumunan penduduk yang menonton dari luar pura.Orang-orang sontak berdiri. Para perempuan menjerit. Para pemangkudan pemuda desa yang tadinya ikut memagari upacara untuk melindungi Swasti, seketika berlari mengikuti arah tubuh Swasti.
Tidak ada yang tahu kemana mereka pergi dan kapan mereka akan kembali. Hanya mereka yang turut memagari upacara ini yang boleh menyusul. Lainnya tidak diperbolehkan hingga Swasti kembali dan meneruskan tariannya hingga selesai atau mereka bersiap menerima karma.
Para penduduk hanya menduga bahwa ada ruh lain yang telah dikirim oleh desa sebelah yang konon sudah sejak lama mengiri hasil panen raya yang melimpah. Atau mungkin ada orang iseng yang ingin menguji ilmunya dengan menantang perang ruh yang kini sedang menguasai tubuh Swasti.
Hingga terang tiba. Para pemangku pulang dengan menggendong tubuh Swasti. Tanpa ruh. Dan tarian terakhir itu pun tak pernah usai. (Semarang, 6 Januari 2008)
Catatan:
Meme : ibu
Canang : tempat sesaji untuk sembahyang orang Hindu terbuat dari daun kelapa
Bija :beras ketan putih yang biasa dibubuhkan di beberapa jenis canang
Bapa : bapak
Nggih : iya
Tari Sang Hyang: tari perawan sebagai unsur kontemporer indikasi sebuah upacara suci.
Piodalan : upacara peringatan usia pura dalam kalender Hindu
Kamben : tali/ikat pinggang terbuat dari kain, salah satu pelengkap pakaian sembahyang
Dayu : singkatan dari Ida Ayu, sebutan untuk kasta tertinggi perempuan di Bali.
Pemangku : tetua adat








February 19th, 2009 at 1:52 am
Aku merinding bacanya, welldone!
March 7th, 2009 at 9:26 am
malam itu ternyata sangat menginspirasimu y ta, tp luar biasa hal yg bagiku dan org lain biasa saja tp bagimu begitu spesial dan bahkan mampu menjadikannya sebuah cerita yg istimewa.