“Perawan Sang Hyang” Dimata Mereka yang Terdekat
Akhirnya saya baca juga cerpen pertama karya sendiri yang dimuat di media massa. Mungkin ini sesuatu hal yang berlebihan bagi mereka yang sudah punya nama. Tapi buat saya ini hal yang sama sekali baru.
Berawal dari “ketahuan” yang terlambat. Berkenalan dengan seseorang yang kebetulan sudah membaca cerpen ini di Femina no. 5/XXXVII/2009. Sedang saya sendiri tidak tahu bila cerpen tersebut sudah dimuat di sana. Kemudian saya berburu edisi yang sudah lewat dua kali ini. Ya iyalah nggak dapat, katanya udah di retur kembali ke Jakarta oleh beberapa agen di Semarang yang saya kunjungi.
Eeh… ternyata kakak saya sudah duluan beli. Hehehe..tidak jadi beli deh…dan beberapa hari terakhir ini saya tinggal sementara di Blora untuk suatu keperluan dengan ibu saya, maka dimanfaatkan untuk mendengar apa kata mereka, orang-orang terdekat saya tentang “Perawan Sang Hyang”.
Hehehe…ternyata lucu juga. Secara keluarga besar saya tidak semuanya hobi membaca apalagi dekat dengan bacaan agak serius. Maka menjadi tidak biasa buat saya, saat kakak saya yang penggemar Agatha Chirstie dan Sidney Shieldon tiba-tiba hanya berkomentar, “bagus.”
Ditambah ibu saya yang konservatif dan benar-benar jauh dari dunia baca selain makalah dan presentasi pekerjaannya dihadapkan pada ayah saya yang moderat dan punya referensi bacaan cukup luas kecuali sastra (mulai dari berbagai alkitab hingga bacaan teknis penunjang hobi lapangannya dalam dunia adventure), dan mereka berdebat di depan saya tentang ending cerpen tersebut yang membuat mereka bertanya “Apakah Swasti akhirnya mati?”
Ketika itu ditanyakan pada saya, dengan jujur saya jawab,”tidak tahu”. Hehehe…
Kemudian perdebatan itu berlanjut dan seterusnya dan seterusnya…
Wah, saya merasa senang saja melihat reaksi orang-orang terdekat saya ini. Bagi saya ini adalah penghargaan terbesar dari mereka yang saya cintai dan mencintai saya. Bahkan ketika ibu saya yang jauh dari bacaan seperti ini tiba-tiba bisa berkomentar banyak… InsyaAllah, saya berada di jalan yang benar dan direstui. Dan ini tidak akan menjadi akhir, tapi awal dari sesuatu yang lebih besar, yang dipersiapkan Tuhan untuk saya. Hmm…kalau saya tidak akan berhenti dan menyerah sih.
Sekali lagi, ingin mengucapkan terimakasih ah. Tentunya pada RK dan Oka Negara yang sudah bikin editing cerpen ini, pada Femina juga. Kemudian apresiasi dari saudara, sahabat, dan teman-teman. Hiks…apaan sih, kayak acara Academy Awards aja! Hahaha…
Ayo sama-sama terus berjuang demi mimpi yang belum usai!
Metta Dian








February 19th, 2009 at 1:54 am
Indeed, Metta, inilah awalnya … ayo semangat!
February 19th, 2009 at 7:04 pm
Kenapa harus mati si Met?? Kasian banget yach? This is a mystical story. I can feel the magic and creepy air when the spirit entered Swasti’s body. Silently, i half expecting her to return. But you kill her… so sad, and twisting…
March 2nd, 2009 at 8:15 pm
Terimakasih teman2. keep in touch via anything….hehehe