Relawan Tersakit (bagian 2)

Sudah baca relawan tersakit bagian satu? Nah ini lanjutannya. Yang ini lebih sakit dibanding bagian satu. Saya sengaja simpan ini untuk yang kedua saja, biar ada “plot-plotan” emosi gitu….waduh, EYD saya berantakan yak!! Langsung deh…
Paguru
Mungkin dengannya saya mempunyai catatan tergila paling banyak selama rekor leading camp. Kami sering saling bantu meski tidak sering partneran dalam satu proyek. Saat bosan kami sering main games dan dalam setiap sebuah games yang kami mainkan pasti akan selalu ada yang dihukum. Nah pada suatu malam, semua campers yang sedang nunggu giliran mandi main sebuah games dari Jepang. Saya agak lupa yang mana. Kami semua bergantian menang, tapi hanya kepada dialah kami melakukan hukuman dengan cara memolesnya dengan “make-up” ala kami. Lama-lama karena bosan, maka setiap siapapun yang kalah, justru dapat hadiah “menambah” make-up ke muka Paguru. Maka jadilah foto ini:

Tapi ada satu lagi yang tergila, saat itu setelah sebuah acara cultural night, tiba-tiba selendang salah satu camper nyangkut di badan camper yang lain. Tiba-tiba saja saya ada ide mengerudungkan selendang itu ke kepala mereka berdua menjadi seperti pengantin. Dan Paguru menyambutnya dengan ide menjadi “punggawa” kerajaan disamping relawan perempuan. Saat itu dia dengan pakaian tradisional “happi” dari Jepang dan membawa sebuah tongkat bendera dari sudut ruangan. Saya? Pasti saya selalu punya ide cemerlang!!! Saya ambil sapu, saya tenteng terbalik, masih pakai kebaya tapi berwajah sama sangarnya dengan Paguru, saya berdiri di samping “mempelai” laki-laki dengan “gagah”. Huahahaha….ini gila!! Tidak percaya? Lihat dibawah ini:

Felix
Haduh dengan Felix apa ya hal tergila yang pernah kami lakukan? Masalahnya kami memang jarang bertemu karena dia relawan dari Surabaya dan posisi saya saat itu di Solo. Tapi saya ingat, dia adalah salah satu icebreaker di Solo Camp, dengan menirukan gaya Atsushi yang sering bilang “ignore me” saat tidak ada orang yang paham apa yang dibicarakannya. Sejak itu, kami sering “ignore him”. Oya saya juga bahas Atsushi di bagian satu, sebagai Goatcatcher.
Hmm…uniknya lagi dengan Felix, saya tidak pernah lupa dia selalu memperkenalkan diri, atau diperkenalkan oleh teman relawan kepada orang baru sebagai orang Korea. Dan selalu berhasil saat dia diam, tampangnya begitu Korea! Tapi begitu bicara! Indonesiaaaa banget, kalau tak bisa dibilang Jawa banget sih. Hahahaha…

Dimas
Pada saat saya dan teman-teman buka posko trauma center di desa Tampungan, Berbah, Sleman, saya mendapat tugas menjemput beberapa relawan lain dari Solo yang bermotor ke lokasi gempa. Karena saya belum hapal jalan kampung itu maka saya ajak Dimas menemani saya ke meeting point kami. Ternyata entah kenapa Tina dkk tidak nongol juga ke tempat penjemputan. Hingga Dimas dan saya merasa bosan menunggu dalam gelap malam, di pinggir jalan, di depan sebuah toko yang sudah tutup dan di seberang jalan ada gerbang perumahan AURI (yang di dalam poskonya selalu dijaga tentara dengan senjata seolah siap tempur itu). Gerimis lagi! Hanya beberapa motor aja nih yang lewat beberapa kali. Akhirnya saya punya ide main games dari Korea…apa ya namanya.
Caranya kami harus bergantian berhitung dari satu hingga tak terhingga, tapi pada setiap angka yang mengandung angka 3, 6 dan 9 tidak boleh menyebut angka tersebut dan menggantikannya dengan tepukan tangan sejumlah berapa angka 3, 6, dan 9 itu tertera. Misal pada angka 3, bertepuk tangan satu kali. Pada angka 39 bertepuk tangan dua kali, dst. Demi Tuhan saya selalu deg-degan saat bermain ini, karena saya sadar tidak begitu bagus dalam berhitung dan berpantang permainan dengan konsentrasi karena buat saya manipulatif. Hehehe… Tapi malam itu saya sendiri yang mengusulkannya. Dan Dimas memandang saya dengan sedikit tak percaya. Maka dia ayo-ayo saja, dengan syarat satu angka untuk setiap satu orang/kendaraan apapun yang lewat. OK! Maka dimulailah permainan itu! Satu (saya), dua (Dimas), tepuk satu kali (saya), empat (Dimas) dst. Saya tidak salah sama sekali hingga tiga puluhan. Saat salah, mulai lagi dari satu. Sampai kita berdua sebenernya sadar kalau bosan tapi tetap diteruskan juga, sampai 2 jam!!!! Dan Tina tidak datang juga!!!Huaaaa….kami tidak patah semangat, kami mulai lagi. Entah pada angka berapa, mungkin tigapuluhan lagi, (pada angka yang berurutan 33, 36, 39) otomatis kami jadi sering bertepuk tangan, dan tiba-tiba ada salah satu pegendara motor yang merasa dipanggil, berhenti dan hendak putar arah ke arah kami. Lalu kami sama-sama diam, cepat-cepat menengok ke arah yang sama dengan pengendara itu dan pura-pura tidak pernah bertepuk tangan. Mungkin karena kami kelihatan lugu, jadinya pengendara itu berlalu juga tanpa mendekati kami. Hahahahaha…. Permainan makin asik nih, tapi tak berapa lama kemudian Tina datang. Halah!! Permainan selesai!

Metta Dian



One Response to “Relawan Tersakit (bagian 2)”

  1.   Paguru Says:

    Hummm.. entah musti senang atau sedih..
    tapi thanks anyway sudah dijadikan bagian dari relawan tersakit..
    huwakakakakak.. wew!!!

Leave a Reply