Relawan Tersakit (bagian 1)

Hahaha…ketika saya ada di acara ultah IIWC tanggal 10 Januari tempo hari, ternyata ada polling relawan “ter-” dengan kategori di luar dugaan saya. Berhubung saya hanya dihubungi untuk ikutan polling atas 5 kategori yaitu relawan termalas, teraktif, teramah, tertangguh dan ter…saya lupa. Maka saya pun juga hanya mempolling lima kategori tersebut. Tapi ternyata teman-teman juga membuat polling yang lain.

Ps. sebenarnya ini sangat tidak adil ya? Karena jadi tidak jelas siapa yang milih, siapa yang diminta milih. Hehehe… Apa ya yang lain itu…yang saya ingat hanya tiba-tiba nama saya dipanggil untuk menerima “anugerah” relawan tersakit.

Maza awoooohhh....:))))

Maza awoooohhh....:))))

Maza awooooooh…. Padahal saya berharap saya mendapat anugerah relawan “ternggambus” (bahasa Semarangan = ndal-ndol…haduuh, saya tidak tahu terjemahannya dalam bahasa Indonesia!!! Toloooooong!!!)

Yah, intinya, setelah saya pertanyakan, ternyata saya dapat predikat itu karena saya sering sakit-sakitan. Hhhh…saya sedikit lega mereka tidak bilang saya yang paling “sakit jiwa”….karena saya berniat saya sendiri yang akan bilang bahwa saya lebih pantas dapat anugerah itu karena saya memang sakit jiwa. Dan memang saya “untab”kan saat itu juga, “Thanks, I am mentally ill.” Hahahaha….
Kenapa saya merasa begitu, terutama di IIWC, karena saat itu saya tiba-tiba teringat pada masa-masa awal bergabung dengan IIWC. Menemukan teman-teman baru yang luar biasa, apapun arti luar biasa itu. Kalau bisa saya sebut dalam kata lain hanya kata “plural” yang paling mendekati.
Dan kali ini dengan penuh rasa kangen, sayang dan hormat saya pada mereka, saya ingin mengenang beberapa teman “gila” yang bersama saya pernah sama-sama “gila” pada saat ada di lapangan.

(catatan: relawan juga manusia, kadang juga punya rasa bosan, jadi boleh dong sesekali gila)

Atsushi
Nah, yang ini dari Jepang, yang mendapat predikat GoatCatcher karena minta difoto saat dia sedang ngejar kambing di  lapangan sepak bola!! Gimana caranya coba!? Yang lebih gila adalah orang yang dengan sukarela bawa kamera dan benar-benar mengejar dia yang sedang mengejar kambing demi satu jepretan saja. Orang itu siapa? Saya!! Sumpah saat itu saya reflek aja nurutin dia pengen di foto! Betapa baiknya saya kan?

Joe
Yang ini jangan ditiru! Kami bermain gitar sambil bermain games (yang saya lupa). Salah satu relawan kalah. Hukumannya dari Joe. Yaitu “mengganggu” Pak RT yang sedang “mengganggu” waktu istirahat kami dengan pertanyaan-pertanyaan yang nggak penting. Saya lupa detailnya, tapi kira-kira mungkin “Warna favori Bapak apa?  Suka bola nggak? Rokok bapak merk apa?” dst. Setelah malam itu Pak RT jadi agak “galak” sama kami. Hahahaha…Makanya pak, jangan suka ngajakin relawan melek malam. Relawan kan juga butuh istirahat.

1 relawan Jepang (hiks…maaf saya lupa namanya, tapi ada fotonya)
Dialah pelaku pemecah salah satu lampu hias di rumah saya saat Blora Camp 2006. Maka saya bilang bahwa orang tua saya bisa marah melihat salah satu kristal lampu itu dia pecahkan. Dia bilang ingin menggantinya dengan lampu yang baru. Tentu saya “kerjain” dia karena saya tidak mungkin membiarkannya membeli lampu baru, kan pecahnya tidak seberapa lagipula orangtua saya pasti memaafkan dia. Saya kerjain, “Tidak ada gantinya lagi, orangtuaku beli dengan desain khusus dan mahal. Tapi cobalah minta maaf sama mereka supaya setidaknya mereka tidak akan marah sama kamu dan masih boleh tinggal di camp sampai selesai.” Maka dia mencari ayah ibu saya untuk minta maaf, ternyata keduanya sedang pergi dan dia menunggu dalam kediaman yang tegang diantara kami yang tidak peduli karena sedang asik diskusi sendiri-sendiri. Saya pikir tidak ada teman-teman yang menganggap serius omongan saya, dia aja tuh! Dan eng ing eng!! Tiba-tiba pintu terbuka, dia langsung bersimpuh di lantai, menyembah ala Jepang tanda minta maaf yang benar-benarrr! Sementara orangtua saya bertatapan tidak paham. Saya jelaskan dalam bahasa Jawa, saya berharap setidaknya Bapak saya akan mendukung “kerjaan” ini. Tapi gatot alias gagal total! Kedua orang tua saya langsung memaafkannya dan menyuruhnya berdiri. Dan setelah itu semalaman relawan tersebut tidak mau bicara dengan saya. Tapi bukan Metta namanya kalau tidak bisa mengambil hati relawan yang sedang ngambek, dan tentunya karena saya merasa bertanggung jawab atas “kerjaan” ini. Semuanya hanya bercanda saja. Asemnya, dia bilang, dia ngambek juga bercanda. Hanya ingin membuat saya merasa bersalah balik. Edian!

Tentang Kampret dan Hubungan saya dengan adik saya
Tidak ada yang percaya dia adalah adik saya. Jangankan adik, tidak satupun teman yang menyadari kami bersaudara. Mungkin karena kami lebih terlihat sebagai teman daripada kakak beradik. Hingga itu terbongkar juga. Tapi masih ada satu relawan dari Jogja yang ternyata ingin membongkar hubungan persaudaraan kami, disaat semua orang sudah tahu faktanya. Kampret namanya. Maka semua orang di kantor saat itu “bekerjasama” tidak buka mulut pada Kampret. Begitupun dengan kami berdua. Dia menginterogasi kami macam-macam dan kami mengelak lebih macam-macam. Hingga akhirnya dia memaksa minta KTP kami berdua. Sudah jelas tertera kami satu rumah, harusnya sudah cukup membuat dia berkesimpulan. Tapi dia masih ragu juga ketika kami ngeles bilang “kami satu rumah karena orang tua kami tinggal di satu rumah yang di bagi jadi dua.” (ps. saya tidak bohong! bagi yang sudah pernah ke rumah saya, pasti paham yang saya maksud, bahwa rumah orang tua saya memang benar adanya dibagi jadi dua, rumah baru dan rumah lama) Eeh…dia percaya itu, hingga akhirnya dia mikir kok tanggal lahirnya beda ya? Sementara kami sempat bilang kami satu sekolah, satu kelas. Huaaaa…ketahuan! Dan Kampret “muni-muni” karena menjadi orang terakhir di IIWC yang tahu ada “persaudaraan” dalam organisasi. Ya sudah itulah akhir diskusi yang nggak penting. Hehehe…
Bersambung Relawan Tersakit: bagian 2



Leave a Reply