Para Peserta IIWC Essay Competition for anniversary (ini saya tulis tgl 30 Desember 2008)

Saya merasa tertantang untuk menjalani peran baru dalam sebuah event yang merupakan salah satu event yang paling saya tunggu selama aktivitas saya dalam IIWC. Event ultah organisasi sekaligus menjadi juri dalam lomba essay yang diadakan organisasi.

Ternyata tidaklah semudah yang saya pikirkan sebelumnya. membaca naskah peserta, corat coret nilai, total-an nilai…tralaaa!! terbitlah juara-juara yang dicari. SAMA SEKALI TIDAK SEPERTI ITU!

Bagi yang sudah berpengalaman menjadi juri dalam berbagai ajang kompetisi menulis mungkin sudah punya formula dan strategi dalam menyelesaikan waktu penjurian seefektif dan seefisien mungkin. Namun setelah saya pikir ulang, sebenarnya manajemen waktu apapun yang dipakai saat penjurian, setiap juri akan selalu mentok pada titik dimana menemukan beberapa naskah yang memang sama-sama layak menjadi juara. sekalipun satu juri sudah mempunyai jagoan masing-masing akan selalu kembali ke titik nol saat bertemu dengan juri-juri lain yang mempunyai jagoan yang berbeda sama sekali.

Dan itulah yang saya rasakan, apalagi saya baru pertama kali menjadi juri lomba menulis essay.  Terus terang pada data saya, ada 19 naskah yang lolos adminstrasi persyaratan peserta. Tahap seleksi administrasi ini dilaksanakan oleh panitia kegiatan.
Angka 19 tidak bisa saya bilang banyak, karena saya mengikuti perkembangan lomba-lomba menulis lain yang bisa merekrut ratusan peserta. Hampir ke 19 naskah ini terbilang cukup bagus dalam konteks cukup memenuhi harapan kriteria penjurian secara umum yaitu orisinalitas ide, konsistensi kontekstual antara tema, judul dan isi, keseimbangan opini pribadi dan teori pendukung, serta ketepatan grammar dan diksi bahasa inggris.

Karena tidak ingin salah menilai, maka secara teknis saya kemudian membuat tiga kategori penilaian dengan rentang angka tertentu yang saya sebut rendah, medium dan tinggi. rentang nilai yang saya buat ini memudahkan saya dalam menilai secara adil. Ini saya rasakan ketika saya menemukan satu naskah pertama yang saya anggap sudah bagus dan terlanjur saya nilai tertinggi. namun setelah melewati beberapa naskah kemudian saya justru menemukan naskah lain yang lebih bagus lagi dan saya tidak bisa menilai lebih tinggi lagi karena nilai tertinggi sudah saya berikan pada naskah sebelumnya. Maka saya harus rela merevisi nilai naskah sebelumnya. Jadi adil.

Pendek kata saya hanya ingin menyampaikan bahwa apa yang final dari penilaian saya belumlah final sebagai produk dari ketiga juri, karena tiga finalis jagoan saya belum tentu menjadi jagoan bagi juri lainnya. maka ini bisa jadi titik nol yang saya maksud diatas.

Namun saya ingin berbagi pendapat sejauh tahap awal seleksi finalis ini. dari 19 naskah yang masuk tersebut saya merasa sangat surprise dengan munculnya istilah-istilah baru beserta penjelasan yang menarik yang bahkan memberi saya banyak masukan tentang ilmu humanitarian, dan itu adalah ide orisinil yang dicari! sisanya banyak juga yang membuat saya mengacungkan jempol karena nampak para peserta essay berusaha keras untuk menulis dengan baik dalam bahasa inggris disertai kutipan dari berbagai sumber.

Namun masih ada beberapa naskah yang (maaf) saya kurang bisa menangkap pesan yang disampaikan karena bahasa inggris yang relatif kurang. Selain itu saya juga  menemukan beberapa naskah yang ide dasarnya bagus dan orisinal tapi pengungkapan dalam essay kurang padat dan bertele-tele yang berakhir pada kesimpulan yang bias dari ide dasar atau sebaliknya essay dengan struktur penulisan yang sudah terbangun bagus dari kalimat pertama hingga akhir namun idenya tidaklah mengenai tema yang sudah ditentukan panitia.

Hmm…harus saya bilang nih, ada juga yang kelihatan sekali “copy-paste” naskah dari sumber-sumber tertentu yang juga sudah saya kroscek pada sumber tersebut. O’O…ketahuan deh! ada juga yang menulis dengan gaya bahasa sangat cair, namun saking cairnya jadi tumpah kemana-mana alias tidak ada ujung pangkalnya….

Secara keseluruhan, dalam tahap awal penilaian ini saya sudah cukup berbangga karena bisa menjadi juri dalam event anniversary IIWC yang baru sekali dan pertama kali dirayakan ini dan memang naskah-naskah yang masuk mempunyai karakter yang beragam dan karenanya menjadi sangat menarik. Semoga saya tidak salah pilih, dan semoga titik nol yang saya dan rekan-rekan juri lain mungkin akan hadapi akan menghasilkan juara yang pantas pula.

Well, juri Metta Dian selesai menjalankan tugas pertama dan bersiap untuk tugas berikutnya.



Leave a Reply