Membuat Kertas Surat Nampak Kuno - Inspirasi dari Natasha
Pada suatu hari, ketika saya masih mengajar di Semarang International School, salah satu murid saya bernama Natasha yang memang dikenal berbakat menjadi seniman itu terlihat mengutak atik setumpuk kertas (yang saya kira) kuno di atas meja. Saya pikir waktu itu semua murid seharusnya belajar matematika, bukan seni. Saya dekati dia dan berniat menegur dengan bertanya, “What are you doing, Nat?”
Dia hanya menunjukkan setumpuk buku yang memang tampak lusuh kecoklatan dengan bekas bakaran di sana-sini. sambil tangan kanannya masih memegang tinta celup untuk menuliskan entah. Saya tidak begitu memperhatikan apa yang ditulisnya karena saya tiba-tiba justru tertarik pada wujud kertas yang sedang digoresnya. Sebagai apresiasi, teguran saya berubah menjadi rasa tertarik. (Hmm….seharusnya kan memang bukan Art Class kan, Nat??)
Ternyata memang itu adalah tugas mata pelajaran Art dia. Hmm…atau malah fisika ya? saya agak lupa. yang pasti dalam workbooknya terdapat petunjuk tentang cara membuat kertas baru nampak lebih artistik dalam bentuk tampak-kuno. Melalui proses bakaran pada bagian tertentu, kemudian sengaja “diperam” di luar bangunan agar tertempa sinar matahari dan air hujan hingga berminggu-minggu.
Setelah itu kertas-kertas tersebut dijilid menjadi buku. Waah, tampak seperti buku berusia seabad. Apalagi kalau yang menjilid pintar memanfaatkan benda alami seperti kayu, jerami, dll yang dipulas sedemikian sehingga menjadi makin kuno. Atau bisa juga menjilidnya dulu baru “diperam”.
Inilah momen yang saya bilang, kita bisa belajar dari mana saja dan siapa saja kapan saja. dan saat itu saya belajar banyak dari Natasha. Dia juga yang akhirnya menginspirasi saya untuk membuat hal yang serupa, meski tentu tak sebagus buatan Natasha…:))
Dan bukan sekedar membuatnya untuk kepuasan diri, namun karena saya sudah lama mencari ide unik untuk membalas surat sahabat saya di Perancis yang memang punya kebiasaan unik nan manis untuk berkirim surat. Terakhir dia mengirim surat dengan amplop dan kertas surat di dalamnya dipenuhi taburan remah bunga mimosa. Olalaa….dia tahu sekali saya selalu ingin lihat dan menyentuh langsung bunga ini!! belum lagi sketsa gereja Sacre Coeur, tempat memorial terakhir kami bertemu dan menghabiskan sore dan suvenir lainnya.
Nah ide kertas kuno Natasha saya pakai untuk menyuratinya. Saya beri judul jilidan surat itu “Holly Letters: Part One”. Mengapa? Biar saya dan sahabat saya saja yang tahu. Hehehe….
Thanks ya Nat!








