Tentang Buku dan Film Laskar Pelangi
Aaah…lega! Akhirnya selesai juga saya baca Laskar Pelangi (LP) relatif efektif dalam tiga hari. Bukan karena “I couldnt take my eyes of the book” tapi karena hmm…memang tidak terlalu berat (ps. masih lebih ringan AAC sih…hehehe..)
Hmm…apa yang mau dibahas ya? Rasanya sudah terlalu banyak yang dibahas oleh banyak orang. Mulai dari teknis menulis seorang Andrea Hirata yang menakjubkan hingga taburan metafora berparut-parut di sekujur tubuh LP bahkan hingga kisah kehidupan pribadi yang dikulik-kulik media. Secara, buku ini adalah kisah pribadi masa kecil Hirata ya?
Maka saya pun tidak ingin ikut-ikutan bahas Laskar Pelangi berkepanjangan ah! Nah pasti kecele kan dengan judul di atas? Hehehe…
Saya mau bilang ini aja. Bahwa saya tidak bisa menulis seperti hasil tulisan Andrea Hirata yang memang penuh dengan bahasa-bahasa yang saya tidak akan paham kalau tidak baca glosarium di bagian belakang. Semua bahasa latin untuk semua jenis tanaman yang disebutkan di dalam buku tersebut membuat saya terpaksa bolak balik halaman berulang kali ke belakang hanya untuk memahami maksud dari filicium, antedeluvium, crinum giganteum, dll.Belum lagi istilah sains yang lain seperti galena, kaolin, monazite, trickle down effect, dstdan itu ada di hampir seluruh paragraf LP.
Dengan begitu, mungkin saya jadi berlogika sama dengan beberapa teman saya. Sepertinya tidak mungkin seorang Andrea Hirata yang bagi dunia sastra Indonesia berasal dari ntah berantah, “out of the blues”, bisa menulis buku sejumlah lima ratusan halaman yang sarat keluasan wawasan dari ekonomi hingga sains ini hanya dalam waktu tiga minggu (tertera di salah satu pujian untuk LP di bagian depan). Well, hanya Andrea dan Tuhan yang tahu…Tentunya saya hanya bisa berdecak kagum saja lah di balik pertanyaan saya itu.
Dan okelah…saya suka dengan buku ini! Maka saya juga sudah nonton filmnya yang luar biasa! Secara sinematografi, saya lebih suka sama tampilan film Denias yang diproduksi Alenia milik Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale. Tapi meskipun temanya relatif sama yaitu pendidikan, namun karena tampilan LP lebih menyentuh maka sepertinya itulah yang menjadi rahasia film ini meraup angka penonton yang fantastis. Berapa sekarang ya? Diatas tiga juta mungkin? Belum lagi ditambah jumlah penonton hasil gelaran nonton gratis Miles Production.
Ini di Semarang saja ya, saya nontonnya dua bulan lalu. Konon sampai sekarang masih aja diputar. Konon lagi beberapa komunitas guru dan murid yang ada di kota-kota sekitar Semarang yang tidak mempunyai fasilitas bioskop sampai diwajibkan nonton film ini ke Semarang dengan membayar sejumlah uang yang dikoordinasi kalangan mereka sendiri sebagai pengganti uang transport dan tiket masuk. Wah…wah…demam LP sampai segitunya ya?
Juga beberapa hari lalu, saya mendengar dari salah satu relawan lokal dari organisasi tempat saya bernaung saat ini. Bahwa dia mengajak salah satu relawan asing dari Inggris, yang bisa sedikit berbicara bahasa Indonesia, untuk menonton film ini. Walhasil, relawan yang juga seorang ibu itu turut menangis di sepanjang film…alamaaak! Bagaimana kalau dia baca bukunya ya? Hehehe…Oke deh, mbak Mira dan Riri Riza sukses! Begitupun Andrea Hirata.
Oya, satu lagi, saya dibuat terbahak ketika baca bagian cita-cita Ikal yang ingin menulis sebuah buku tentang bulutangkis dan disebutkan salah satu kemungkinan judulnya adalah “Badminton Untuk Pergaulan”! Hmm, tidak pernah terpikir bagi saya. Hahahaha…
ps. suatu saat saya ingin juga menggelar nonton gratis LP kalau sudah ada vcd/dvd nya untuk anak-anak sekolah di pucuk pegunungan di Blora. Mereka tidak kalah prihatinnya dengan kondisi LP di Belitong. Hmm…maka kapan nih saya bisa beli dvdnya? Saya janji beli yang asli! Hehehe…
Salam Metta Dian.







