Karena Ibunda, Saya Jatuh Cinta Pada Maxim Gorky

Maxim Gorky

Maxim Gorky

“Marilah kita mengangkat suara untuk memujikan wanita, Ibunda, sumber seluruh penaklukan kehidupan tak habis-habisnya!…Marilah bernyanyi untuk memujikan wanita, Ibunda, satu-satunya kekuatan terdahulu di mana kematian menunduk merendahkan kapalanya!…” (Gorky, Hikayat dari Italia)

Ya, kalimat pertama dari cerpen Ibunda karya Maxim Gorky itulah yang membuat saya jatuh cinta padanya! Dan seterusnya saat saya semakin lama semakin jauh membaca seorang Maxim Gorky.
Saya membeli sebuah buku terjemahan berisi cerpen-cerpen pilihan tulisan Gorky ini enam bulan yang lalu. Namun seperti biasa jika saya menikmati betul membaca sebuah tulisan maka saya membacanya pelan-pelan seperti tidak mau cepat-cepat menghabiskan waktu bersama buku tersebut, tak jarang saya baca berulang kali untuk mendapatkan rasa yang lebih kena. Dan begitulah yang saya rasakan saat membaca buku ini.
Buat saya ini sesuatu diluar kebiasaan saya dalam membaca karya terjemahan. Biasanya saya banyak keluhan tentang buku-buku terjemahan dan ah…sepertinya tidak perlu dibahas kenapa bukan?
Keluhan-keluhan juga saya rasakan saat membaca beberapa cerpen Gorky dalam buku “Hikayat dari Italia” ini. Yang inilah yang itulah…tapi ternyata di sebagian besar cerpen lainnya saya sangat menikmatinya (hmm…saya berasumsi, jangan-jangan tidak hanya satu orang yang mengerjakan terjemahan cerpen Gorky karena ‘gaya’ menerjemahkan yang berbeda di beberapa cerpennya dan juga kualitas terjemahan yang tidak konsisten)
Anyway, kemudian saya terpaku pada salah satunya, yaitu cerpen Ibunda. Dialog dialog yang cerdas, filosofis, keras, tajam dan mencekam dari seorang Ibu yang sedang mencari anaknya yang “dirampas” saat masih kecil serta pencarian yang tak lekang oleh apapun hingga mempertemukannya dengan Timur dan kroni-kroninya, Tamerlane, serta Kermani si penyair yang hanya tunduk pada Tuhannya yaitu kejujuran kata. Penuh dengan sindiran yang mungkin sesuai dengan latar belakang sejarah yang melingkupi kondisi Gorky saat menulis cerpen yang satu ini. Bukankah memang begitu adanya semua tulisan Gorky? Ini pula yang saya tangkap dari cerpen dia yang lain yaitu (salah satu favorit saya) Terowongan, Perkawinan dan Juru Propaganda.
Gorky seorang asli Rusia, yang bernama lahir sebagai Aleksei Maximovich Peshkov memang lebih mengenal kehidupan kelas pekerja dengan baik karena sejak kecil sudah terbiasa hidup dalam kalangan tersebut, mulai dari bekerja sebagai pembantu di toko sepatu, pengepel lantai geladak kapal, tukang roti, penjaga malam, dll. Kekerasan, penyakit dan kelaparan adalah makanan sehari-hari yang didapatnya dari nasib seiring dengan perjalanan hidupnya. Mungkin karena inilah ia mengambil nama Gorky yang berarti pukulan, sebagai nama pena.
Dibalik popularitasnya sebagai sastrawan dia juga dikenal sebagai aktivis revolusioner dengan mendukung Partai Sosial Demokratik dan kemudian menarik diri untuk mendukung Lenin saat terjadi perpecahan pada tahun 1903. Sempat ditahan karena aktivitas politiknya hingga pengusirannya dari Rusia yang mengantarkannya tinggal di Capri, Italia. Di sinilah sekumpulan karyanya lahir dan koleksi cerpennya kemudian dikenal sebagai “Hikayat dari Italia” atau “The Tales from Italy”.
Pada ulang tahunnya yang ke-60 ia kembali ke Rusia dan dinobatkan oleh Stalin sebagai patron sastra Sovyet yang sekarang ini kita kenal sebagai sastra realisme sosialis.
Selama bertahun-tahun diakhir umurnya Gorky mengalami sakit-sakitan dan terkena disilusionisasi paska-revolusi dan kemudian meninggal pada tahun 1936 di bawah pengawasan tim medis. Lepas dari kematiannya yang diliputi misteri karena berbagai kalangan yang meraagukan apakah kematiannya alami atau tidak, karya-karya Gorky adalah karya yang abadi dan tetap menjadi salah satu sumber bacaan yang wajib baca bagi kalangan pecinta sastra dunia.
Saya? Saya bukan pecinta sastra dunia, tapi saya hanya suka baca. Saya tidak mengenal Gorky karena nama besarnya, namun lebih karena suatu hari saya temukan bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penguin Books ini. Saya memang akhirnya harus jatuh cinta lewat karyanya yang berjudul Ibunda. Keharusan yang saya suka!
ps. saya masih belum selesai membaca buku ini jadi sepertinya akan terus bertambah deretan cerpen favorit saya dari Gorky. Hehe…

Salam Metta Dian



Leave a Reply