Snorkelling di Pulau Gede, Rembang
Masih dalam rangka lebaran lalu saya dan keluarga besar saya menyempatkan diri liburan sehari dengan berperahu ke pulau Gede, Rembang.
Perjalanan darat dari Blora ke Rembang kurang lebih satu jam ke arah utara. Kemudian dari garis pantai Kartini, Rembang, kami berperahu nelayan ke pulau yang dimaksud. Sebenarnya rencana awal kami adalah snorkeling ke Pulau Karang yang hanya berjarak kurang lebih 20 menit dari pantai. Namun karena menilai waktunya mencukupi untuk pergi ke pulau yang lebih jauh lagi yaitu Pulau Gede, maka jadilah kami ke sana.
Buat saya, ini bukan pertama kali menginjakkan kaki ke Pulau yang pernah saya kunjungi dengan teman-teman relawan empat tahun yang lalu. Pulau ini tidak terlalu besar. Anda bahkan bisa mengitarinya kurang dari 30 menit saja. Yaah, kecuali anda sambil berhenti sesekali untukmengamati kerang-kerang cantik seperti yang saya lakukan.
Ditengah-tengah pulau hanya ada ilalang dan tetumbuhan sejenis bakau. Pulau ini juga memiliki koral dan kerang warna warni yang masih sangat alami. Jarang di jamah orang. Sayang saat kami ke sana sudah jarang ikan yang bisa dilihat mungkin karena aktivitas nelayan. Atau pengunjung?
Namun saya, ayah, adik dan sepupu-sepupu saya benar-benar bisa menikmati pemandangan di bawah laut ini. Mungkin tak seindah koral yang bisa kita lihat saat snorkeling di Karimunjawa, Bali atau apalagi Bunaken. Tapi sekali lagi pulau ini sangat pantas dijadikan komoditas wisata alternatif di Rembang. Sayang, sepertinya tak ada perhatian khusus dari pemerintah setempat untuk memelihara dan mengembangkannya. Padahal bila digabung dengan wisata bawah air di Pulau Karang yang tidak jauh dari pantai juga, pasti akan lebih “marketable”.
Perhatian khusus itu misalnya penyulaman kembali tanaman-tanaman bakau atau mangrove yang saya lihat sudah mulai menipis. Terakhir penanaman mangrove seingat saya dilakukan oleh tim Wanabakti Rembang, itupun dalam jumlah yang tidak bisa dikatakan menutup target seluruh lingkar pulau. Penanaman itu kalau tidak salah dilakukan setahun yang lalu, padahal penyulaman yang harus sudah dilakukan selama rentang waktu itu setidaknya dua hingga tiga kali. (ps. Mohon dikoreksi jika ada ahli mangrove yang membaca ini dan menemukan kesalahan dalam pengetahuan saya)
Kemudian jika ini bisa dijalankan, maka garis lingkar pulau pasti akan lebih terlindungi dari abrasi. Selain itu nilai-nilai ekonomis lain dari mangrove juga bisa diambil. Langkah selanjutnya, jika pulau ini bisa dijadikan sebagai salah satu obyek wisata, maka perlu dilengkapi dengan fasilitas seperti tempat sampah. Meski tidak terlalu luas dan tidak terlalu banyak orang yang mendatanginya namun sampah tetap saja menjadi masalah di sana. Meski bisa dimaklumi kalau sampah di pulau ini bisa dipastikan bahwa tidak seluruhnya adalah sampah dari pengunjung, namun merupakan sampah kiriman dari daratan yang terbawa ombak. Hmm…kalau untuk ini tentunya tidak hanya perlu ketersediaan tempat sampah dan kesadaran pengunjung saja. Tapi perlu juga kontrol reguler dari yang berwenang.
Satu lagi yang membuat tidak nyaman berjalan di pantai ini adalah bulu babi. Mun gkin karena juga jarang di jamah manusia, jadinya banyak sekali bulu babi yang siap menusuk kaki. Tidak hanya di pinggir pantainya tapi bisa juga anda dapatkan saat anda berenang di sekitar pulau. Makanya bahkan saat saya snorkeling di sana pun saya tetap pakai fin/sepatu katak atau setidaknya memakai sepatu/sandal yang enteng dan tidak mudah copot.







