Renungan Ramadan September 2008
Agama identik dengan dogmatisasi atau doktrinasi atau apalah namanya yang semacam itu. Itu pula yang saya rasakan sejak saya masih kecil. Jadi saya pernah mengalami masa sangat relijius. Kalau teman-teman baru saya tahu hal ini, pasti mereka tidak percaya. Saya pernah mengalami masa solat lima waktu, puasa Senin Kamis atau bahkan pernah puasa Daud, solat sunah mulai dari tahajud, witir, dhuha, mengaji setiap sehabis solat wajib, dst.
Hingga di satu titik saya merasa masih tetap kosong. Limbung saat ada masalah sedikit saja. Kalau ustad bilang itu karena iman dan keyakinan saya pada Tuhan masih tipis. Mungkin ada benarnya.Namun mungkin juga tidak. Bisa jadi karena saya hanya memupuk kepercayaan pada Tuhan saja yang justru itu membuat saya kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Saat saya ada masalah makanya saya jadi limbung karena tak tahu harus berbuat apa.
Padahal hanya percaya bahwa Tuhan selalu bersama saya saat ada masalah tidaklah cukup untuk menghadapi masalah tersebut. Saya harus berbuat sesuatu untuk menyelesaikannya. Dan di sanalah kepercayaan diri diuji. Seiring dengan itu di pikiran saya timbul banyak pertanyaan kepada dan tentang Tuhan.
Kemudian saya merubah pola pikir saya. Berusaha tidak meninggalkan Tuhan, karena bagaimanapun saya percaya adanya the divine power namun juga terus memupuk rasa percaya diri dengan logika, pengalaman, mental personal, ilmu, dll. Ajaib!
Saya merasa lebih relijius dalam arti berbeda dan itu membuat saya lebih kaya. Saya merasa komplit, lengkap dan lebih sempurna sebagai manusia. Bukankah manusia penuh dengan ketidaksempurnaan? Nah itulah saya! Dan itu bisa saya bandingkan karena saya pernah mengalami dua fase masa relijius yang berbeda. Saya tidak bisa bilang mana yang lebih baik. Toh buat saya relijiius tak melulu berarti anda sangat muslim, atau sangat kristen, sangat hindu, dll.
Relijius bagi saya adalah kondisi nurani dan jiwa seseorang yang selalu ingat pada Tuhan dan segala kebaikan yang dilakukan adalah semata-mata karena kesadaran akan perlunya kasih sayang untuk dibagi pada sesama dan juga sang Pencipta, tak peduli pada agama apapun yang dipeluk. Sejatinya, agama juga hanya mengajarkan kebaikan dan cinta pada semua makhluk dan Khaliknya.
Saat seseorang menyadari itu, dengan sendirinya dia akan menemukan alasan untuk menjalani suatu ritual. Yaitu karena memang dia memilih ‘transportasi’ kasih berupa agama tertentu. Bahkan tidak berarti seseorang tanpa agamapun adalah seorang yang tidak punya alat untuk menyampaikan kasih dan relijiusitas.
Kesadaran itulah saat suatu dogma tidak lagi berbicara. Doktrin tak lagi dipaksakan. Bukankah itu lebih indah?
Sholat dilakukan bukan karena kewajiban, apapun kata Tuhan, tapi karena kita memang suka melakukannya. Puasa dijalani bukan karena takut pada dosa, tapi karena cinta dan rasa sayang jika meninggalkannya. Membaca Al kitab dilakukan bukan karena amal yang di dapat, tapi karena memaknai setiap ayatnya dan menyadari setiap keindahan kalimat cinta dari Tuhan. Semua karena kita cinta melakukannya. Dan jika Tuhan mencatatnya sebagai tabungan surga itulah kuasaNya. Bonus buat hidup setelah kematian.
Saya merasa itulah yang saya dapatkan pada Ramadan tahun ini. Mungkin ibadah saya masih jauh dari sempurna. Namun saya merasa tahun ini adalah pertama kali saya menjalani Ramadan dengan penuh ikhlas, bukan karena takut dicap murtad bila tak puasa, bukan karena takut pada dogma dosa yang tercatat bila tak solat. Tapi lebih karena saya memang mau menjalaninya. Dan itu memang lebih indah dan makin membuat saya cinta pada Tuhan saya. Tuhan anda. Tuhan kita semua.
Selamat lebaran!








October 14th, 2008 at 11:19 pm
setiap org berhak mencari & menganut kebenaran masing2 dengan cra & jalan yg berdeda2. from that point, I can say “spiritual experience”. ya, justru org jgn langsung percaya doktrin kiranya hal itu tdk bs di trima dgn logika. krn manusia adlh mahluk yang di bri akal oleh tuhan. but for me, “Religion without knowledge is lame and knowledge without religion is blind”.
October 14th, 2008 at 11:32 pm
begitulah idealnya…