IIWC : Kemurnian Filosofi Kerelawanan (Dari pengalaman pribadi saya)

 Tahun
2004 adalah awal perkenalan saya dengan IIWC, Indonesia International Work
Camp. Berangkat dari sebuah keinginan untuk
menghibur diri
dari patah hati yang luar biasa. Saya tak pernah menghiraukan adik saya yang
sudah bergabung lebih dulu beberapa bulan sebelumnya (saya belum patah hati
waktu itu). Kemudian iseng-iseng dia bercerita tentang suka duka tergabung
dalam LSM sosial ini.

Lantaran
sekaligus punya rasa ingin tahu yang sangat besar tentang LSM yang saya anggap
berkonsep baru dan beda dari LSM-LSM lain di Indonesia, maka saya mendaftarkan
diri menjadi salah satu relawannya.

Apa
yang saya temui? Saya langsung jatuh cinta sejak pertama tergabung dalam salah
satu kegiatannya yaitu international work camp. Kegiatannya tidak jauh berbeda
dibandingkan dengan KKN – Kuliah Kerja Nyata ala mahasiswa jaman dulu.
(Eh, sekarang mungkin masih ada kali ya di beberapa universitas negeri?)

Apa yang membuat saya jatuh cinta? Jujur, entah.hahaha

Tapi ada beberapa hal yang saya bisa ceritakan di sini
perihal kenapa saya tak bisa atau belum bisa benar-benar pergi darinya. Buat
saya IIWC adalah salah satu jendela semesta. Bukan sekedar semesta dalam arti
geografis namun juga semesta sosial, semesta psikologi, semesta budaya, semesta
bahasa, semesta jiwa, dll. LSM ini juga ibarat buku. Buku bertema apa saja yang
ingin anda keruk isi ilmunya, ada disini. Hanya saja, jangan sampai anda
berharap akan menemukan hal yang berbau SARA apalagi aliran politik tertentu di
sini. Karena organisasi ini sama sekali tidak membedakan dan mendiskriminasikan
apapun, termasuk jender.

Bisa berjuang terus menerus di dunia sosial adalah ibarat
orang gila yang sedang berusaha untuk menjadi waras di tengah dunia yang tak
waras. Beberapa orang yang sudah terbukti berkecimpung lama di sana adalah
buktinya. Mungkin saya salah satunya
hehehe(wah saya gila
dong
)

Bagaimana tidak, IIWC adalah LSM yang murni bisa
berkegiatan sosial karena ada sokongan uang, tenaga, pikiran dan ilmu dari dan
oleh para relawannya, baik relawan lokal (baca: Indonesia) maupun dari relawan
asing. Namanya juga internasional. Catat: mungkin ini LSM internasional pertama
di Indonesia yang didirikan sekaligus dimanage
oleh anak negeri sendiri, meski berjaringan internasional.

Lalu kemana hasil kerjanya? Apakah juga untuk relawannya?
Saya bisa jawab, tidak! Karena semua hasil kerjanya bersifat sosial yang diperuntukkan
bagi target kegiatan tersebut, siapa lagi kalau bukan kaum terpinggirkan,
anak-anak kurang mampu, anak-anak jalanan, ibu-ibu di slum area,
penyandang cacat, penderita atau orang beresiko tinggi terkena HIV/AIDS, dll.

Apakah IIWC memberikan uang pada mereka? Tidak. Karena
IIWC bukan LSM yang membuka pintu bagi sebuah komunitas untuk bermanja-manja
pada bantuan materi, apalagi tidak tepat sasaran dan tepat guna. Tapi lebih
pada pengembangan karakter, kepercayaan dan kapasitas diri, kemampuan menjadi
pribadi mandiri serta jaringan yang memperluas kesempatan untuk membentuk
masyarakat yang lebih terbuka, bertoleransi tinggi terhadap perbedaan dan
kekurangan orang lain. Idealisme ini sesungguhnya tercipta dalam rangka
mewujudkan visi dan misi IIWC untuk menyebarluaskan visi dan misi perdamaian
global melalui segala media ilmu dan jenis kegiatan sosial dengan perantara
pertukaran relawan antar Negara-negara di seluruh penjuru dunia.

Konsep yang murni relawan serelawan-relawannya inilah
yang membuat saya tak pernah benar-benar bisa pergi darinya. Meski saya sudah
menyatakan diri untuk mundur dari lapangan sebagai international camp leader,
namun sesungguhnya saya masih berkecimpung di dalamnya dengan porsi yang
mengecil.
Lebih
mengerucut saya bilang. Di IIWC, sekarang saya lebih fokus pada bidang tugas baru.
Bidang yang tidak membuat saya terlalu sering keluar

kota

karena tugas (kecuali
saya menginginkannya, piuhhh
.betapa saya bisa
memutuskan apa yang saya inginkan ya??). Bidang itu adalah menjadi training
coordinator.
Saya pikir ini hanya sekedar selingan di sela mewujudkan keinginan
saya bekerja beneran (jangan pikir menjadi relawan di LSM sosial yang satu ini
anda akan kaya raya seperti kerja di LSM lainnya, ya?).

Awalnya
saya berpikir menjadi training coordinator adalah pekerjaan yang mudah.
Namun dalam perjalanannya saya menemukan tantangan yang luar biasa banyak
dan serba baru.

Bagaimana membentuk individu yang berkarakter kuat dan
siap menjawab tantangan lapangan yang hampir bisa dipastikan selalu menyebalkan
sekaligus menyenangkan. Bagaimana mencetak international camp leader dan
relawan member yang berkualitas dan paham betul konsep kerelawanan
organisasi IIWC yang tidak menjanjikan apa-apa pada anggotanya kecuali
pengalaman dan kepuasan batin. Bagaimana mempenetrasikan idealisme akan
perdamaian dan persahabatan global ditengah pecahnya isu agama, rasialisme,
dll. Bagaimana menginterpretasikan sistem organisasi yang baru dan selanjutnya membuat
asesmen akan kelayakan kelanjutan sistem tersebut melalui media training bermetode
baru.

Yang lebih menantang lagi adalah saat menyelenggarakan
training dengan para trainee yang mempunyai latar belakang pengalaman,
kapasitas dan pengetahuan yang berbeda.
Karena training di IIWC bukanlah
training fisik yang dipenuhi outbond, “gojlokan”, dsb.
Melainkan lebih pada penanaman idealisme akan eksistensi pluralisme dengan
media kegiatan tematis. Bisakah anda bayangkan pada saat yang bersamaan anda
harus menjaga beberapa bayi sendirian dan bayi-bayi tersebut ada yang baru saja
lahir, ada yang sudah bisa merangkak, berjalan bahkan lebih suka berlarian
daripada diam untuk menghabiskan makan siang. Nah, tepat seperti itulah yang
saya bayangkan. Dan training itu akan segera saya emban lagi akhir bulan ini.
Senangnya, kali ini akan ada lebih banyak kru yang akan membantu saya dengan
pengalaman yang masing-masing bisa diandalkan. Sekali lagi untuk inipun tidak
ada satupun dari kami yang dibayar. Semuanya sukarela.

Nah, sekarang bisakah anda memahami maksud kalimat saya
di awal tadi?

Bisa berjuang terus menerus di dunia sosial adalah ibarat orang gila yang
sedang berusaha untuk menjadi waras di tengah dunia yang tak waras.

Iiwc_logo

    Kunjungi website IIWC di: www.iiwcindonesia.org



Namun apakah anda juga memahami kepuasan batin yang
membuat saya atau siapapun yang
mau menggila seperti ini? Kalau
anda merasa tidak bisa memahami berarti anda adalah orang yang waras. Bila anda
sekedar memahami maka anda termasuk orang yang punya empati yang biasa-biasa
saja. Bila anda memahami sekaligus sama-sama berjuang demi visi dan misi sosial
seperti kami, entah dalam bentuk apa, demi kepentingan orang lain, maka anda
adalah orang gila bagi dunia yang sesungguhnya memang sejak lama sudah tak
waras. Bingungkah dengan kalimat barusan? Nah
renungkanlakukan sesuatu
untuk orang terdekatmu yang sedang kesusahan.
Itu sudah bentuk kerelawanan paling
sederhana. Terima kasih. <metta dian>



5 Responses to “IIWC : Kemurnian Filosofi Kerelawanan (Dari pengalaman pribadi saya)”

  1.   Lovia Says:

    metta dian,,seorang teman,seorang kakak,seorang guru..
    semoga semakin banyak orang yang benar-benar ‘gila’ seperti dirimu..
    dan saya harap saya termasuk kelompok itu..

  2.   arman Says:

    dan mbhedodol vi…

  3.   v_Lix Says:

    metta adalah seorang teman ketika kita masih sering menggila dulu :( kangen…
    dan
    IIWC adalah sebuah wadah yang telah membantuku untuk dapat melihat dunia :)

  4.   pandu Says:

    Waah ide kakak hebat…..So wonderfull.xlo bleh tahu nie kak Metta yang rumahnya Blora g’ ? cz q pnya tetangga yang namanya kak Meta ,dia juga di IIWC ,,,hmmmm tapi paling kakak g’ bkalan tau q cz ,q dari Rt sebelah n q jarang maen ke sana.q teu kak Metta dari tetangga xlo kak Metta bawa foreigner ke sini ,ya…. q langsung ke ruamhny “pak Didik” ja..
    Tp maaf y.. ank2 di sana kok respone nya.. gimana gtu xlo da org luar yang pngin ikut maen sama bule2 itu ! (he…) ya udah ya kak.. ya dah GOOD LUCK BUat Kak Metta..

  5.   metta dian Says:

    @ lovi: kamu sudah jadi gila kan sekarang?
    @ arif: mbedhodhol bergembira!
    @ felix: i miss you too. i wish we could’ve done and said better than what has been between us..
    @ pandu: iya, Metta yang itu. ini pandu yang mana ya? maaf ya kalau kurang hafal. kamu gabung aja sama mereka, jangan hanya karena pengen kenal sama bule nya dunk. tapi juga berpartisipasi dalam kegiatannya. kan tujuan mereka datang tidak hanya untuk main-main. tapi ada program kerjanya. jadi jangan menyerah…btw, iiwc belum punya relawan baru dari blora lho…kamu mau?

Leave a Reply