Festival Sinema Perancis 2008 di Surabaya

Saya suka sekali nonton film. Meski bisa dibilang saya masih kalah dibandingkan
dengan para moviegoers di luar sana. Jika sebelumnya saya hanya menonton
film dari sewa kepingan vcd/dvd dari movie rental. Sekarang setidaknya
sebulan sekali saya belanja beberapa dvd, atau bahkan meski hanya satu keping saja.

Selain itu ada
beberapa event tertentu yang memang saya selalu berusaha menyempatkan diri
menontonnya. Seperti beberapa festival film dari berbagai negara semacam Jiffest,
pemutaran film oleh beberapa komunitas film lokal di manapun saat itu saya
berada, ataupun diundang oleh teman untuk nonton film di rumahnya.

Pada akhir bulan
April lalu saya tidak ingin melewatkan momen event Festival Film Perancis 2008
di Surabaya. Kabarnya festival ini adalah festival yang diselenggarakan
ketigabelas kalinya di Indonesia. Selama ini bagian Kerjasama dan Kegiatan
Kebudayaan dari Keduataan Perancis telah menampilkan 300 judul film Perancis
untuk publik Indonesia yang beberapa lusin diantaranya berhasil didistribusikan
di jalur komersial Indonesia. Setidaknya begitulah yang tertera di majalah Voila
le Printemps, terbitan Kedutaan Perancis bulan April – Agustus 2008..

Karena kebetulan
saya ada di Surabaya untuk tugas kantor, jadi sekalian saja, berusaha
mensiasati jadwal kerja yang sudah dibuat agar bisa menonton setidaknya satu
saja dari sekian film digeber. Eeh, dapat tiga film. Alhamdulillah. Nah,
sebagai oleh-oleh lagi, ini dia yang saya tonton:

Ma vie en
l’air

Ma_vie_en_lair1_2
Sinopsis:

Sebuah kisah
tentang seorang laki-laki bernama Yann Kerbec, instruktur di sebuah perusahaan
penerbangan. Ia bertugas mengevaluasi kemampuan pilot saat simulasi terbang
pada kondisi ekstrim. Ironisnya, dia justru takut naik pesawat meski dilahirkan
saat berada dalam penerbangan. Rasa takutnya adalah bawaan yang didapat sejak
lahir.

Disisi lain
karena kelahirannya yang berlangsung di dalam sebuah penerbangan ternyata memberikan
nilai komersial pada maskapai yang bersangkutan, maka ia mendapatkan
penerbangan gratis dari maskapai itu seumur hidup! Tapi tak pernah sekalipun ia
memakai fasilitas tersebut. Bahkan ketika pacarnya pergi ke Australia dan
mereka berjanji akan bertemu di sana, tetap tak mampu membuatnya menang melawan
ketakutan terbang. Dia berpikir untuk menjomblo saja hingga si gadis kembali ke
Perancis. Kenyataannya, sepuluh tahun berlalu tanpa kabar dari gadis tersebut;
tepatnya tak ada kabar sejak janji pertemuan mereka tak terpenuhi.

Dalam proses
menunggu, ia berteman dengan seorang perempuan lain bernama Charlotte.
Persahabatan dengan perempuan ini bertolak dari kondisi mereka yang
bertetangga. Tanpa sadar ia pun jatuh cinta dengan Charlotte. Namun disaat
bersamaan pacar lamanya muncul lagi dari Australia. Rencana melamar Charlotte
pun gagal. Selain itu Charlotte memilih mundur karena dia tahu betapa kuatnya
perasaan Yann pada perempuan itu.

Di pihak Yann,
dia yang diliputi nostalgi masa lalu, tidak bisa menolak kenangan dan keinginan
untuk kembali. Meski kemudian dia sadari bahwa perasaan yang dimiliki untuk
Charlotte sesungguhnya jauh lebih kuat dari masa lalunya. Sesaat sebelum
pernikahannya dengan mantan pacar, dia pun “lari” bagai “runaway groom” menuju
bandara dan mengejar Charlotte yang sudah beberapa hari sebelumnya telah
berangkat liburan ke Tahiti.

Justru di akhir
cerita inilah klimaksnya. Traumanya kembali diuji. Sudah pasti bisa ditebak endingnya
kan? Yann berhasil melalui ujian itu dan akhirnya bersatu dengan Charlotte.

Ma_vie_en_lair2_1
Ma Vie En
l’air (Indonesia: Hidupku Hampa)
buat saya sama sekali bukan film yang berat.
Kisahnya sama dengan drama cinta lainnya. Jatuh cinta, putus, jadian lagi,
putus lagi karena ada orang lain yang dianggap lebih baik, jadian lagi dengan
orang baru. Konflik terbangun dari sebuah tema yang sangat sederhana dan
individual.
Klimaks di akhir adalah sesuatu yang jarang saya temui dalam
bentuk film. Saya bayangkan kalau itu buku, pasti akan bosan sekali bacanya ya.
Seperti tak ada habisnya
menanti kapan konflik, klimaks dan denoument-nya. Tapi mungkin karena ini
bentuk film dengan visualisai yang bagus dan juga dengan bumbu komedi yang pas,
ala Paris yang tidak berlebihan, membuat saya jadi tidak bosan menontonnya.

Value yang
bisa dipelajari di dalamnya adalah (lagi-lagi) jodoh tak kan kemana!
Pecayalah!! Hehehe…

Mauvaise
Foi

Mauvaise_foi1_1
Sinopsis:

Clara adalah
seorang Yahudi, sedangkan Ismael adalah seorang Arab. Mereka adalah pasangan
yang berbahagia. Saat Clara hamil merupakan hari terindah dalam hidup mereka.
Semuanya berjalan lancar. Keduanya sama-sama menginginkan bayi itu. Maka
merekapun berencana untuk mengatur pertemuan dengan keluarga masing-masing
sebagai momen perkenalan dan memberitahu akan pernikahan yang akan segera
dilaksanakan. Giliran pertama adalah perkenalan Ismael dengan keluarga Clara.
Kedua orangtuanya, terutama ibunya sangat shock melihat kenyataan bahwa
putrinya ternyata berhubungan dengan seorang Arab dan Islam. Di mana isu
rasialisme memang di setting-kan sedang panas-panasnya saat itu. Disinilah
konflik terbentuk.

Clara nekat
mempertahankan kehamilannya dan memperjuangkan hubungan mereka meski orang tua
tak menyetujui. Dia juga berharap akan segera berkenalan dengan orang tua
Ismael sebagai calon mertua dan calon menantu. Namun rupanya dari reaksi
keluarga Clara, Ismael menyimpan trauma bahwa ia akan menemukan hal yang sama
bila suatu hari akan memperkenalkan Clara pada ibunya. Apalagi dia mendapati
ibunya selalu wanti-wanti tentang kewajibannya sebagai seorang muslim yang
baik. Dia takut apa yang dilakukannya akan mengecewakan ibunya. Sekaligus
khawatir apakah pacarnya akan bisa menerima keluarganya yang sangat taat
beragama. Tapi dia juga tak bisa melepas pacarnya.

Hingga suatu hari
Clara tak sengaja berkenalan dengan adik Ismael dan berhasil merunut
kebohongan-kebohongan calon suaminya saat sering menolak mewujudkan pertemuan
tersebut. Clara marah dan mengira Ismael tidak serius. Masalah Clara langsung
dikoreksi oleh Ismael dengan mengundang ibunya ke rumah dan memperkenalkannya
dengan Clara. Tapi saat yang dinanti tiba justru Clara yang tak bisa bertemu
karena ada kecelakaan kecil di tempat kerjanya. Mereka bertengkar lagi dan berujung
pada sebuah keputusan untuk berpisah. Clara depresi, kemudian memutuskan
sendiri untuk menggugurkan kandungannya. Orangtua Clara sendiri akhirnya luluh
demi melihat putrinya begitu bersedih dengan perpisahan itu. Kemudian mereka
merestui. Ismael berhasil mengejar Clara yang ternyata telah membatalkan
pengguguran itu. Hubungan mereka berakhir ke pelaminan, mempunyai beberapa anak
dan bahkan kedua besan sangat akrab, meski mereka tetap mempertahankan
kepercayaan masing-masing.

Mauvaisefoi2_2
Mauvaise
Foi (Indonesia: Maksud Jahat)
adalah salah satu film di festival ini yang menurut saya bagus secara
tematis. Tentang perkawinan campur, bukan pada kemajemukan kewarganegaraan
tokohnya. Tapi lebih pada kemajemukan latar belakang budaya tokohnya. Bayangkan
sendiri seorang Islam bercinta dengan seorang Yahudi.
Ini isu yang buat
saya akan selalu up to date. Karena perbedaan itu selalu ada. Sejak sebelum
kakek nenek kita lahir hingga kelak anak cucu kita berganti menghuni bumi. Ada
atau tak ada isu film Fitna, perbedaan itu akan selalu di depan mata.
Bukan terletak pada agama saja, tapi
politik, seni, budaya, kemsyarakatan, dll. Akar perdamaian sebenarnya adalah
perbedaan itu sendiri. Namun perdamaian tak terwujud jika tak dimulai dari diri
sendiri yang saling penuh toleransi dan rasa hormat yang tinggi satu sama lain.
Anda bisa temui di sepanjang film ini bagaimana para tokohnya berkonflik dengan
diri sendiri dan orang lain tentang perbedaan tersebut untuk kemudian berhasil
mengalahkan ego masing-masing dan bisa hidup dengan tenang.

Inilah value
yang saya bisa ambil dari film ini. Dan seperti biasa, film yang bercerita
tentang kompleksitas dinamika hidup Parisian ini selalu ada yang menghibur,
menyentuh dan manis dengan bungkus sedikit komedi. Two thumbs up for this
strong thematic movie!!

Bled Number
One

Bled_number_one1_1
Sinopsis:

Kamel, seorang
imigran dari Aljazair dideportasi dari Perancis setelah menjalani masa
hukumannya di sana karena suatu masalah. Pengasingan di Aljazair ini membuatnya
mau tidak mau mengamati dengan sungguh-sungguh dan dari dekat tentang sebuah negeri yang penuh
gejolak, tarik menarik antara keinginan untuk menjadi modern dan warisan
tradisi leluhur. Ia menyaksikan bagaimana orang lokal yang masih terikat kuat
dengan tradisi islamnya, tapi sekaligus juga terseret pada fanatisme yang
membabi buta, menjurus pada tindak kekerasan dan pembunuhan. Disisi lain ia
juga menyaksikan adanya sekelompok orang yang tejebak dengan modernitas yang
tidak mendidik. Seperti berjudi dan mabuk-mabukan. Rangkaian cerita ini
terhubung benang merah antara Kamel dengan seorang perempuan lokal beranak satu
yang baru saja bercerai dari suaminya. Ia jatuh suka sejak pandangan pertama
dengan perempuan itu. Mereka terlihat akrab oleh penduduk desa sejak acara
perayaan Idul Qurban. Si perempuan dan anaknya sempat dijemput oleh suaminya,
tapi kemudian dibuang begitu saja di pinggir jalan dan anaknya dibawa pergi.
Berjalan pulang tengah malam, alih-alih menerima sambutan keluarga yang hangat
dan melindungi. Dia justru mendapatkan perlakuan kasar dari kakak laki-lakinya
yang menganggap perceraian adiknya adalah aib keluarga. kemudian perempuan itu
disiksa dan disekap di sebuah loteng, hingga depresi berat karena kehilangan
anak dan mengalami siksaan tersebut. Menjalani pengobatan tradisional semacam Rukyah
di Indonesia juga tak membantunya. Masa-masa depresi inilah yang membuatnya
diam-diam dekat dengan Kamel dan kemudian Kamel benar-benar jatuh cinta. Kamel
adalah tempat bercerita. Saat itu juga terkuak keinginan terpendam perempuan
tersebut untuk menjadi penyanyi. Namun suatu hari perempuan itu pergi demi
mencari anaknya dan mewujudkan mimpi terpendamnya. Karena tak menemukan anaknya
itu, dia semakin depresi dan memutuskan untuk bunuh diri. Beberapa orang
menyelamatkannya dan justru mengantarnya ke sebuah rumah sakit jiwa. Di luar
dugaan justru disanalah dia bisa mewujudkan keinginannya untuk bernyanyi.
Sementara Kamel yang telah jatuh cinta dan muak dengan kondisi lokal yang
semakin barbar antara modernitas dan tradisional, memutuskan untuk pergi mencari
perempuan tersebut.

Bled_number_one2_3
Bled Number One (Indonesia: Dusun Nomor Satu)
adalah
film yang lumayan berat konsepnya. Tema yang diusung juga keren. Lebih keren
malah, dari Mauvaise Foi. Karena konflik yang diangkat bukan lagi sekedar
perbedaan antar agama. Tapi justru perbedaan orang-orang yang berada di dalam
satu paham agama itu sendiri. Bagaimana mereka menginterpretasikan modernitas
dan tradisionalitas dalam bentuk yang saling bertentangan .sehingga menimbulkan
perpecahan. Meski ada dua tokoh utama disini yaitu Kamel dan perempuan
tersebut, yang saya lupa namanya, namun sesungguhnya mereka hanyalah alat untuk
menyampaikan pesan. Pesan atas apa yang mereka lihat dalam sebuah desa yang
tidak jelas identitasnya. Keberadaan tokoh ini adalah ibarat kaca pembesar yang
membantu penonton melihat secara obyektif dan lebih dekat konflik yang lebih
luas. Tidak berputar ke masalah mereka berdua saja, namun melebar hingga
pemikiran tokoh-tokoh yang bukan utama di dalamnya.Film ini juga dikemas dengan
sedikit sekali efek suara dan musik latar, membuatnya lebih terasa riil.
Saya lebih melihatnya sebagai film semi
dokmenter. Bukan lagi film komersil apalagi tipe blockbuster. Konon film ini
telah meraih penghargaan grand prix Jeunesse pada Festival Cannes ke – 59.

Value yang
saya ambil dari film ini adalah tentang obyektifitas. Terus membuka pikiran
akan perbedaan dan selalu berusaha melihat setiap masalah dari berbagai sisi
terlebih dahulu sebelum memutuskan akan berdiri membela siapa. Itulah salah
satu usaha mendidik diri sendiri. Dan orang yang berani mendidik dirinya
sendiri adalah orang yang berani untuk menjadi jujur. Kejujuran diri sendiri
adalah bekal untuk jujur di depan orang lain dan di depan Tuhan.

Anynomous
(maaf, saya lupa judulnya)

Nah, sebenernya
masih ada satu film lagi yang saya tonton juga. Tapi tidak masuk di rangkaian
Festival Film Pearncis, meski saya menontonnya langsung di ruang teater Konjen
Perancis Surabaya. Sayang, saya lupa judulnya. Yang pasti saya menonton dengan
Rahma, partner kerja saya selama di Surabaya. Dan kami terlambat 10 menit dari
jadwal yang seharusnya. Yah, tak apalah…

Film ini bercerita tentang seorang penulis yang sedang dalam
proses penyelesaian sebuah naskah drama. Dia masih muda dan ingin menceritakan tentang kisah cinta tiga generasi
yang berbeda. Generasi remaja, pemuda dan generasi tua. Dalam proses
penyelesaian naskah tersebut ia sekaligus mencari pemeran untuk para tokoh di
dalamnya. Nah, film ini lebih berputar-putar bagaimana sang penulis tidak pernah
merasa puas dengan orang-orang yang datang untuk kasting. Kemudian dia bisa
juga berputar balik dengan cepat cerita tentang menjalani riset sebelum
memutuskan untuk menulis naskah tersebut. Akhirnya dia tak menemukan satu
orangpun yang bisa mewakili peran-peran naskah tersebut. Malah dia sendiri
merasa tokoh-tokoh di dalamnya terlalu riil untuk di realisasikan. Naskah itu
akhirnya hanya disimpan.

Film ini relatif
berat karena plotnya yang lincah mudah berpindah cepat setiap menitnya.
Sepertinya saya selalu mengerutkan kening sepanjang menonton film ini, karena
ingin “mencerna” dengan baik pesannya. Pesan cinta yang ingin disampaikan pun,
meski mengerucut pada hubungan laki-laki dan perempuan namun bisa diartikan
secara luas sebagai cinta yang universal. Cinta pada siapa saja, umur berapa
saja, dari mana saja, dll.
Tak berbatas! Ada kuota yang saya suka dan
masih ingat sampai sekarang dari film ini adalah:

“The measure of
love is the love without measure.”

Nah, apakah anda sedang jatuh cinta? Atau sedang patah hati?
Atau sedang bahagia karean baru saja dapat pekerjaan yang menyenangkan, atau
sebaliknya baru saja dipecat? Saya percaya anda adalah orang-orang yang positif
sehingga selalu optimis memandang masalah. Temukanlah cinta yang tak terukur di
sekeliling anda. Tak usah jauh-jauh, lihat saja diri anda sendiri dulu,
jujurlah… baru lihat orang lain.



2 Responses to “Festival Sinema Perancis 2008 di Surabaya”

  1.   arman Says:

    situ oke??? yang maen khan gue??? itu tuh… di pelm-nya ituh…………………….

  2.   dhie Says:

    thanks untuk reviewnya.. film Mauvaise Foi diputar lagi di tempat yg sama minggu ini.

Leave a Reply